Sepeda

Apa yang terlintas di benak kamu ketika membaca judul post ini? Hanya sekedar bayangan tentang sebuah kendaraan roda dua, atau lebih dari itu? Yang jelas bagi saya, adalah yang dibawah ini :

Sepeda itu.. Memori. Untuk sebagian besar anak muda yang lahir pada tahun 90an, sepeda memberikan kenangan yang tidak bisa dilupakan tentang masa kecil mereka. Termasuk saya. Saya adalah sejatinya anak tahun sembilan puluhan yang setiap sore hukumnya fardhu’ain buat keliling komplek naik sepeda, dan pulang ke rumah dengan bangga membawa oleh-oleh luka lecet di lutut. Saya ingat dulu mendapatkan sepeda roda tiga pertama saya waktu ulang tahun ke-4, dan mendapatkan sepeda roda empat pertama saya sebagai hadiah juara kelas waktu duduk di kelas 1 SD (yang kemudian dicopot roda belakangnya ketika akhirnya saya sudah bisa mengendarai sepeda roda dua)

Lagi naik sepeda roda tiga sambil pake topi koboy. (?!!)

Muka sumringah sama sepeda baru, seminggu kemudian itu keranjang udah penyok-penyok.

Saya juga ingat dulu sering membawa sepeda saya untuk main super nintendo di rumah tetangga (soalnya kalau main dirumah harus rebutan sama abang-abang saya dulu), atau bersama teman-teman komplek keliling mencari rumah kosong yang kemudian dianggap “markas” ($#*@!&??!!!), dan masih banyak lagi yang nggak bisa satu per satu ditulis disini.

Sepeda itu.. Teman yang setia. Waktu masih kecil dulu, sepeda menemani saya ketika sedang sedih karena habis dibully abang-abang saya dirumah (kecil-kecil udah emo). Sepeda menemani saya yang sedang menghindar dari omelan ibu saya tentang nilai ujian yang jelek. Sepeda menemani saya ketika saya ingin pergi ke kampus, berbelanja, berolahraga, atau berkunjung ke rumah teman. Ketika saya sedang butuh pelarian dari tugas akhir saya yang tak kunjung selesai, sepeda saya ada disana. Siap untuk membawa saya kemanapun yang saya mau.

Sepeda saya bahkan menemani saya mendaki gunung dan melewati lembah untuk bisa sampai ke Warban untuk pertama kali.

Sepeda itu.. Racun! Waktu tingkat pertama kuliah di Bandung, saya diracuni untuk main sepeda lagi sama teman saya Ari. Dia waktu itu cerita sama saya gimana dia pergi ke tempat-tempat menarik di Bandung seperti air terjun Maribaya dan Boscha dengan naik sepeda. Waktu itu saya langsung tertarik buat punya sepeda lagi, dan langsung minta ke orang tua saya. Tapi sayang belum direstui karena katanya bahaya. Saya nggak langsung menyerah dong tentunya, setelah merengek-rengek manis manja selama hampir 3 tahun lamanya, saya akhirnya berhasil diijinkan untuk punya sepeda lagi! Setelah punya sepeda dan aktif menggunakan sepeda lagi sejak bulan Januari 2012 kemarin, saya juga berhasil meracuni sahabat saya, Agnindhira untuk main sepeda juga. Agni yang tadinya NGGAK BISA NAIK SEPEDA (meeeeeen!) sekarang bahkan sudah bisa bolak-balik kampus-kosan naik sepeda MTB nya dan  sering jalan-jalan nyari sarapan bareng saya keliling Bandung. Saya rasa kalau semua orang yang suka main sepeda bisa meracuni minimal satu orang lain untuk bisa main sepeda juga, budaya naik sepeda di negara kita bisa berkembang seperti negara lain lho.

Percayalah, Agnindhira ini mahasiswa tingkat empat di ITB. Bukan anak kelas 3 SD seperti terlihat di foto.

Sepeda itu.. Pacar. Adalah Rio, nama sepeda saya yang saya berikan atas dasar karena saya terlalu cinta sama dia. Panjangnya Rio Dewanto. Jadi kalau orang tanya, “Ty, pulang sama siapa?” saya bisa menjawab “Sama Rio Dewanto. Kalau orang tanya “Ty, tadi kesini sama siapa?” saya jawab “Sama Rio Dewanto”. Kalau orang tanya “Ty, itu kok tangannya lecet?” lagi-lagi, saya bisa jawab “Iya nih gara-gara si Rio Dewanto”. Oke ini mulai kemana-mana. Yang jelas, si Rio ini sudah seperti pacar saya sendiri. Dia memiliki perhatian penuh dari saya, saya juga mendapat pelayanan maksimal dari dia. Dia menemani saya kemana saja yang saya mau, saya juga rajin memenuhi apa yang dia mau. Ah, pokoknya mesra banget lah hubungan saya sama dia.

Mirip kaan? Makasihh.

Banyak orang yang masih nanya “Kenapa sih naik sepeda?”, saya suka bingung juga jawabnya. Naik sepeda kan panas, capek, bikin item. Saya sebenarnya pengen nyeritain gimana serunya bersepeda, tapi kayaknya itu nggak bisa dijelaskan kalau belum merasakannya langsung. Lalu saya pun dengan sok-sokan menjawab “Ya emang kenapa nggak?”

Column Break : Java Jazz Stereotypes

Kadang, saya khilaf juga sih ngasih stereotype sama orang. Hahaha. Oke, tulisan ini buat lucu-lucuan aja ya. Ini adalah beberapa tipe karakter manusia yang sering saya temui di Java Jazz :

1. A Real Jazzer

Karakteristik : Orang-orang yang memang ngerti jazz, yang rela keluar duit berapa aja buat nonton idola mereka manggung. Tipikal kolektor piringan hitam yang koleksi piringan hitam jazznya udah sampe ribuan sampe pernah muncul di kolom “Hobi dan Komunitas” di koran Kompas.

Penampakan : Bapak-bapak di show-show Earth, Wind and Fire atau Al Jarreau yang menghayati lagu sampe merem-merem

"Ehm aku tuh udah ngumpulin piringan hitam udah dari 30 taun yang lalu ya, makanya aku seneng buanghet eee wkt java jazz ngedatengin mas herbi henkok idolaku"

2. Hipster/Poser/Anti-Mainstream

Karakteristik : “I know Jazz before it’s cool” adalah slogannya. Cuma mau nonton artis-artis jazz senior seperti Acoustic Alchemy, Laura Figy, atau artis-artis indie seperti Gugun and The Blues Shelter, dan Duwende, ANTI menonton artis-artis jazz mainstream seperti Jamie Cullum, Corrine Bailey Rae, apalagi Maliq & D’Essentials. Kebanyakan ngerti jazz juga nggak, tapi biar gak dibilang mainstream ya sok ngerti aja >> “Guwekh cuma dateng buat nonton Barry White aja men, gw uda dengerin lagunya sejak kecil.. Males gilak ntn yang lain.”

Penampakan : Outfit biasa banget, cenderung terlalu santai kaya mau ke pantai (celana 3/4, kaos, sendal jepit), bukan karena pengen pake yang nyaman, tp karena takut dibilang niat banget mau nonton konser aja. Atau tipikal style hipster : kemeja flanel, jins skinny belel, kacamata rayban. Biasanya kemunculannya ada di show-show intrumental jazz, ngangguk-ngangguk asyik (padahal dalem hati : njir ini kapan nyanyinya kok musik melulu), atau di show-show artis muda kaya Mayer Hawthorne tapi instead of  berebutan buat dapet front row kaya anak-anak muda yang lain, dia ini nontonnya di belakang stay cool aje gak mau keliatan excited (padahal dalem hati : anjirrr nonton darisini cuma keliatan pala orang doang meeen)

"Nyeeet. Ternyata Barry White udah mati 9 taun yang lalu. Itu yang semalem konser tribute"

3. Mainstream

Karakteristik : Tujuan utama dateng ke java jazz sebenarnya.. Nggak ada. Biar gaul aja. Biasanya ikutan karena diajak temen-temen atau geng sepermainan. Tipikal anak gaul jakarta yang dateng se-geng dan wara-wiri gak ada juntrungannya dari satu hall ke hall lain.

Penampakan : Outfit yang cenderung salah kostum –Rok mini & high heels. Dude, really?!. Style abeeeeeesssstssssh pokonya dari ujung rambut sampai jempol kaki. Kemunculannya pasti di band-band mainstream, teriak-teriak pas artisnya keluar padahal cuma tau satu lagu juga.

"Futu dulu siiiiist biar bisa di twitpic fufufufu."

4. PDA Couple

Karakteristik : Datang ke Java Jazz sama pacar buat.. Uh, pacaran.

Penampakan : Di tengah-tengah penonton yang sedang khusyuk menikmati musik di panggung, mereka ini seru peluk-pelukan/Ngelendot/Hal lain yang sepatutnya dilakukan dua orang yang bukan muhrim di tengah-tengah ramainya sebuah konser musik.

Yang nontonin : antara awkward atau sontak ngerasa forever alone.

Ya ampun, dosa saya tambah numpuk kayaknya gara-gara bikin tulisan ini. Haha yang jelas ini cuma lucu-lucuan dan semua tipe yang saya sebutkan disini adalah versi ekstrimnya loh. Aslinya gak semuanya segitunya juga kok saya yakin. (Evil smirk). Ah okee sebelum nambah dosa lagi mending sign out dari sekarang. Au revoir!

Tentang Java Jazz, Musik, dan Stereotyping.

Dua minggu yang lalu, saya datang ke Java Jazz. Ini adalah Java Jazz kedua yang saya datangi. Sejujurnya sih saya ini sebenarnya bukan penikmat musik jazz, tapi kebetulan sudah dua kali artis yang saya suka manggung di Java Jazz. Yang pertama Sondre Lerche (tampil di Java Jazz tahun lalu) dan yang kedua, Mayer Hawthorne (tampil di Java Jazz kemarin). Keduanya, jelas-jelas bukan musisi jazz. Genre-nya Sondre itu indie-pop/folk sedangkan Mayer itu neo-soul/funk. Lho lho lho terus kenapa mereka tampil di Java Jazz yang dari namanya saja sudah ketahuan jelas,bahwa ini adalah festival musik JAZZ?

Nah ini dia yang sering jadi perbincangan sekarang. Sudah gak asing lagi di kuping saya mendengar pendapat-pendapat seperti “Hah artis anu main di Java Jazz?! Emang dia apa jazznya?”, “Cih, Java Jazz sekarang udah nggak jazzy lagi.”, “Ah, Java Jazz sekarang tuh bukan acara musik. Tapi cuma buat ajang nongkrong”, “Ah Java Jazz udah terlalu mainstream” dsb dst dll. Ya memang nggak bisa dipungkiri lagi, dateng ke Java Jazz itu memang sekarang udah jadi mainstream. Java Jazz sekarang udah bukan lagi sekedar ajang untuk menikmati musik jazz, tapi juga jadi lifestyle. Orang-orang yang datang kesana bukan lagi cuma para penggila musik jazz yang rela keluar kocek sejuta demi melihat langsung aksi panggung Herbie Hancock, Pat Metheny, atau Manhattan Transfer. Tapi juga orang-orang yang cuma datang untuk mengejar prestise, anak-anak muda yang cuma pengen nongkrong, atau bahkan yang sekedar datang untuk mengisi waktu luang di malam minggu.

Saya akui, saya juga sempet terpengaruh sama pandangan-pandangan kayak gitu. Apalagi waktu saya tau RAN tampil di Java Jazz 2009. Dan yang nonton super rame! Ampun. Bukannya saya mau bilang RAN itu gak bermutu atau gimana. Tapi melihatnya, batin saya nggak sanggup ditahan untuk berkata “Nyet, ini festival jazz apa pensi anak SMA?”

Well, pada akhirnya pandangan tersebut berubah setelah saya datang ke Java Jazz 2011. Ya. Ini adalah Java Jazz pertama yang saya datangi. Dan niat saya waktu itu spesifik : straight to Sondre Lerche‘s show. Tapi ternyata sesampainya disana, saya kecepetan tiga jam dari waktunya Sondre tampil. Saya mikir, sayang juga ini tiket 200ribu kalo gak dimanfaatkan, mending dipakai buat nonton artis lain yang lagi tampil. Akhirnya sambil nunggu show-nya Sondre, saya muter-muter. Waktu itu saya random masuk ke satu hall, dan ternyata lagi ada sebuah band instrumental jazz yang tampil. Jujur, saya belum pernah bisa menikmati musik instrumental. Satu-satunya band atau musisi instrumental yang saya dengar cuma Mogwai, yang notabene alirannya post-rock (Jauh banget sama jazz!), saya mulai ragu-ragu nih, bisa nggak ya saya menikmati musik instrumental jazz ini. Tapi ternyata saya sangat menikmati show instrumental jazz itu! Entah karena melihat aksi panggung si para musisi ini yang sangat ekspresif walaupun mereka murni cuma memainkan alat musik, tanpa ada vokalis. Atau karena suasana crowd yang juga terlihat sangat menikmati konser tanpa aksi karaoke seperti konser-konser lain yang biasa saya datangi. Usut punya usut, akhirnya saya tau band instrumental jazz itu adalah Fourplay. Yang ternyata namanya sudah tidak asing lagi di lingkup jazz kontemporer dunia. Keluar dari hall-nya Fourplay waktu itu saya masih gak habis pikir, saya yang nggak ngerti jazz ini pun bisa mengakui, show barusan itu berhasil bikin merinding disko saking kerennya.

Dari situ saya mulai sadar, Java Jazz ini festival MUSIK lho. Apa sih esensi dari musik ini? Henry Wadsworth Longfellow di bukunya “The Song of Hiawatha” pernah bilang : “Music is the universal language of mankind”. Yes. And I couldn’t agree more! Musik itu sesuatu yang bisa mempersatukan dua, tiga, puluhan, ratusan, RIBUAN orang dari suku yang berbeda, negara yang berbeda, bahasa yang berbeda. Musik adalah sebuah bahasa universal yang bisa dimengerti dan dinikmati semua orang. Dan apa Java Jazz sebagai sebuah festival musik punya itu? Saya rasa ya.

Nggak peduli kamu datang dengan alasan sekedar mengikuti lifestyle atau ingin menambah wawasan musik. Ingin menikmati musik Jazz, Soul, Folk, atau Reggae. Ingin menonton Fourplay atau Sondre Lerche, Manhattan Transfer atau Mayer Hawthorne, Pat Metheny atau Raisa, Stevie Wonder ataukah RAN. Pada akhirnya kita semua akan menikmati satu hal yang sama kok. Musik.

Nggak usah lah gengsi sama stereotype mainstream gak mainstream. Jaman sekarang orang-orang kok kayaknya takut banget dibilang ngikutin mainstream. Kadang saya juga suka mudah memberikan stereotype ini kepada orang-orang berdasarkan musik yang mereka dengar. Tapi pada akhirnya saya sadar lagi. Music itself has genres, but it has no stereotypes. So why don’t we just listen to what we like, not what people want us to like?